TOR

Term of Reference COMICOS 2017
FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta
“Developing Knowledge Community: Quintuple Helix and Beyond”

 

LATAR BELAKANG

Memasuki usia yang ke-52 di tahun 2017 ini, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) berkomitment untuk terus melakukan inovasi. Dalam milestone kedua yang mengusung tema ‘journey to invention’, UAJY berupaya untuk terus mengembangkan istitusinya menuju masyarakat berpengetahuan (knowledge community)[1] melalui berbagai penelitian. Tentunya penelitian ini tidak hanya sekedar menciptakan hasil, namun juga berupaya mensinergikan peran antara pemerintah, industri, universitas dengan mengajak peran serta masyarakat sipil demi mencapai inovasi yang berkelanjutan.

Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Dr. Muhammad Dimyati, dalam pidato Dies Natalis ke-51 UAJY tahun 2016 mengatakan penelitian menjadi sebuah bidang yang mampu digunakan oleh bangsa dalam meningkatkan daya saing global. Melalui penelitian, potensi lokal mampu dikembangkan yang akan menunjukkan daya saing suatu bangsa.

Dari aspek ekonomi, Indonesia bisa dibilang maju. Sebagai gambaran, ketika berbicara di hadapan 2500-an WNI yang berdomisili di Australia yang berkumpul di Darling Harbour Theatre, Sydney (26/2/2017), Presiden Joko Widodo menyinggung prestasi ekonomi Indonesia. Jokowi membanggakan pertumbuhan ekonomi RI pada 2016 yang sebesar 5,02 persen–secara global berada di peringkat ketiga. Nielsen Global Survey (2016) bahkan menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga paling meyakinkan di Asia. Hal ini menunjukkan kesiapan Indonesia untuk bertarung di kancah internasional.

Namun dari aspek inovasi, peringkat Indonesia justru kebalikannya. Kondisi penelitian di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara lain di ASEAN. Global Innovation Index (2016) menempatkan Indonesia pada urutan 88 dari total 128 negara di dunia.

Catatan merah bagi Indonesia adalah rendahnya penilaian pada bidang politik dan pemerintahan, pendidikan dan penelitian serta inovasi industri. Padahal bidang tersebut merupakan pilar negara yang bisa mendorong kemajuan bangsa. Tanpa sinergi antara insitusi pemerintah, pendidikan dan industri tidak akan mungkin bisa tercapai masyarakat yang maju dan sejahtera.

Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan negara ini memang visinya dagang. Itu yang membuat kita terus-terusan jadi bangsa konsumen, bukan produsen (IndoPos, 11/03/2017).  Faisal Basri menilai kebijakan pemerintah selama ini tidak pro terhadap inovasi dan produsen. Dia mencontohkan beberapa kasus. Misalnya tingginya pajak untuk mengimpor komponen tertentu. Dalam hal pengembangan inovasi, pemerintah memang memiliki peran strategis dalam sinergi dengan universitas dan industri.

Patut disadari bahwa pengembangan inovasi kini tidak bisa terlepas dari isu global warming. Presiden Joko Widodo ketika menghadiri Conference of Parties (COP) 21 di Paris telah menyampaikan komitmen pada inovasi dan produksi yang peduli pada lingkungan. Bahkan salah satu kerja sama yang dibuat dengan Norwegia terkait pembiayaan di bidang pendidikan dilakukan berdasarkan pemahaman bahwa global warming memerlukan dukungan dari institusi pendidikan sehingga dapat diimplementasikan oleh penduduk Indonesia secara kebanyakan (DetikNews, 01/12/ 2015).

Berbagai persoalan ekonomi, keterbelakangan teknologi, serta kondisi lingkungan alam yang kian terancam menantang dan mengundang berbagai pihak dan aktor-aktor kunci—khususnya perguruan tinggi—untuk ambil peran dan turun tangan. Setidaknya, ada tiga model untuk memahami interaksi aktor-aktor kunci dalam sistem inovasi: (1) Triple Helix, (2) Quadruple Helix, dan (3) Quintuple Helix.

Model inovasi Triple Helix (Leydesdorff, 2012) yang muncul pada pertengahan 1990-an memfokuskan pada relasi antara perguruan tinggi, industry, dan pemerintah. Model ini meletakkan pentingnya keberadaan perguruan tinggi dalam inovasi. Dalam pengertian tertentu, Triple Helix lebih menekankan pada produksi pengetahuan dan inovasi di bidang ekonomi atau sering disebut dengan istilah knowledge economy.

Model Quadruple Helix menambahkan konsep Triple Helix dengan helix keempat yakni ‘public yang berbasis pada media dan budaya’ serta masyarakat sipil. Pendekatan Quadruple Helix mengupayakan sinergi antara universitas, industri, pemerintah, dan masyarakat sipil (civil society) dalam kehidupan sebuah negara (Carayannis et.al., 2012).  Quadruple Helix lebih mendorong perspektif knowledge society, dan knowledge democracy untuk produksi pengetahuan dan inovasi.

Dalam pemahaman Quadruple Helix, pembangunan berkelanjutan dari knowledge economy membutuhkan kerjasama dengan knowledge society (Carayannis, Barth & Campbell, 2012). Pendekatan Quadruple Helix merupakan pengembangan dari konsep Quadruple Helix bertujuan mendorong terbentuknya knowledge society sehingga mampu menciptakan produksi dan inovasi yang efektif dalam sebuah masyarakat yang ideal.

Dinamika pembangunan masyarakat membutuhkan inovasi baru yang mendukung pembangunan berkelanjutan.  Model Quintuple Helix menjadi relevan untuk melihat realitas kondisi saat ini. Model inovasi Quintuple Helix memberikan pemahaman lebih luas dan komprehensif dengan mengkontekstualisasikan model Quadruple Helix dan menambahkan helix (dan perspektif) ‘lingkungan alam’. Quintuple Helix lebih menekankan pada pentingnya socioecological transition dari masyarakat dan ekonomi; sehingga Quintuple Helix lebih ‘ecologically sensitive’.

Dalam kerangka model inovasi Quintuple Helix, lingkungan alam dari masyarakat dan ekonomi harus dilihat sebagai driver bagi produksi pengetahuan dan inovasi yang kemudian membuka peluang bagi knowledge economy[2]. Dengan demikian Quintuple Helix mendukung situasi win-win antara ekologi, pengetahuan dan inovasi, serta menciptakan sinergi antara ekonomi, masyarakat, dan demokrasi (Carayannis, Barth & Campbell, 2012).

Kolaborasi antar komponen ini tentu memberi peluang yang lebih menjanjikan pada berbagai sektor pembangunan sosial ekonomi. Simbiosis mutualisme yang terjadi diharapkan mampu menjadi daya dukung pada pertumbungan industri kreatif.  Inovasi yang dilakukan warga yang kreatif dapat mendukung keberhasilan negara (Oscar, 2010).

Selain berdampak pada peningkatan produk domestik bruto (PDB), sektor industri kreatif memberi kontribusi pada penciptaan lapangan pekerjaan dan kewirausahaan yang berbasis sistem ekonomi masyarakat. Civil society dalam hal ini tidak terlepas dari keberadaan dan peran serta media maupun budaya yang ada di masyarakat.  Artinya menjadi satu bagian penting juga untuk meninjau dinamika media, budaya, dan masyarakat dalam dalam konteks perubahan sosial kemasyarakatan.

Keberadaan Model Quintuple Helix menjembatani isu pengetahuan dengan isu sosial sebagai sebuah bentuk transfer interdispliner yang saling menguntungkan bagi masa depan. Carayannis dan Kaloudis (2010) menekankan bagaimana agar inovasi bisa mendayagunakan konsep leadership, empowerment serta intelligent use of technology sebagai pilar inovasi.

Faktanya, socioecological transition merupakan pendorong utama inovasi untuk kemudian bisa menciptakan inovasi dan pengetahuan yang lebih baik. Dalam hal inilah universitas akan berperan sebagai sub-sistem yang akan menjadi wadah potensi manusia (human capital) yang luar biasa.

Di masa mendatang, universitas diharapkan bisa berperan dalam transfer informasi teknologi dan kewirausahaan di luar pengajaran dan penelitian. Dengan demikian, posisi universitas kini pun bertransformasi menjadi socio-economic agent setelah misi akademik untuk mengajar dan melakukan penelitian (Ranga & Etzkowitz, 2011).

Hal ini merupakan salah satu bagian dari kebijakan pemerintah untuk memperkuat hubungan antara universitas dan msyarakat. Kolaborasi yang terjadi akan meningkatkan keberadaan universitas dalam menghasilkan penelitian. Pada akhirnya, universitas bisa memenuhi kekosongan yang ada dan menjadi ‘innovation organizer’ (Rubin, 2009) untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan kaya akan pengetahuan dengan tetap menjaga sensitivitas terhadap isu lingkungan.

Hal inilah yang mendasari terselenggaranya Conference on Media, Communication and Sociology (COMICOS) pada tahun 2017 ini dengan tema ‘Developing Knowledge Community: Quintuple Helix and Beyond’. Dengan pendekatan Quintuple Helix, diharapkan konferensi ini mampu menarik minat dan keinginan saling berbagi di antara para mahasiswa, dosen, akademisi dan praktisi dari semua bidang ilmu untuk berinteraksi, berdiskusi, berinteraksi, dan kemudian bersinergi untuk memecahkan berbagai persoalan yang kita hadapi bersama.

[1] Knowledge community (Carayannis et.al., 2012, h.4) adalah sebuah kondisi di mana pengetahuan saling berhubungan dan memberikan kontribusi spesifik demi terciptanya kreasi, difusi dan penggunaan ilmu pengetahuan itu sendiri dalam level nasional. Ke depan, knowledge community pun mampu mempengaruhi keputusan politik, hingga ti tingkat dunia, untuk menyeimbangkan pengetahuan, wawasan dan inovasi dengan lingkungan alam.

[2] Knowledge economy adalah sebuah kondisi dimana setiap orang berkontribusi dalam konteks sosial ekonomi, teknologi dan budaya yang saling berhubungan dengan pengetahuan sehingga pada akhirnya hal ini akan mampu menciptakan hasil yang bersifat hybrid, publik maupun privat, kodifikasi maupun tidak, nyata maupun virtual (Carayannis & Campbell, 2012, h.3).

 

TEMA SEMINAR

“Developing Knowledge Community: Quintuple Helix and Beyond”

RUANG LINGKUP

  • Komunikasi dan pembangunan sosial-ekonomi
  • Industri kreatif dan enterpreneurship
  • Inovasi dalam tekhnologi informasi dan komunikasi
  • Dinamika media, budaya, dan masyarakat
  • Etika, regulasi, dan kebijakan publik
  • Masyarakat dan perubahan sosial
  • Pemberdayaan masyarakat dan nilai keberlanjutan
  • Industri, bisnis, dan ekonomi

TUJUAN

  1. Mendiskusikan isu terkait proses pembangunan masyarakat berpengetahuan (knowledge community) yang melibatkan universitas, industri, pemerintah, civil society, dan lingkungan alam.
  2. Mendiskusikan tantangan dan peluang terciptanya inovasi sebagai hasil sinergi antara universitas, industri, pemerintah, civil society, dan lingkungan alam.
  3. Mendiskusikan berbagai dinamika dalam pengembangan inovasi terutama di bidang industri kreatif dan kewirausahaan.

PELAKSANAAN

  • Kamis dan Jumat, 7 – 8 September 2017
  • Pukul 09.00 – 16.00
  • Auditorium Kampus 4
  • Universitas Atma Jaya Yogyakarta
  • Jl. Babarsari No 4. Yogyakarta

TARGET PESERTA

  • Mahasiswa S2 dan S3
  • Dosen dan akademisi
  • Praktisi industri
  • Umum

FORMAT ABSTRAK

Pengiriman abstrak dengan mencantumkan

  1. Judul paper
  2. Nama penulis, pekerjaan/ jabatan, institusi
  3. Nomor telepon
  4. Alamat email
  5. Biografi singkat (100 kata)
  6. Abstrak (300-500 kata)

CRITERIA FOR REVIEW

Kriteria yang digunakan untuk melakukan review abstrak dan full paper adalah sebagai berikut:

Abstrak

  1. Topik relevan dengan tema konferensi
  2. Keaslian dan kebaruan tema
  3. Hasil riset baik studi pustaka maupun studi lapangan
  4. Kejelasan metodologi penelitian
  5. Memiliki kontribusi bagi pengenbangan ilmu pengetahuan, riset, dan praktik

Full papers

  1. Kriteria utama seperti dalam kriteria abstrak
  2. Kejelasan tinjauan pustaka
  3. Kualitas penulisan yang baik (EYD)
  4. Bersedia dipublikasikan (e-proceeding)

FORMAT PAPER

Bagi peserta yang dinyatakan lolos abstrak, selanjutnya bisa mengirimkan full paper  dan mempresentasikannya dalam konferensi yang berlangsung. Adapun ketentuan full paper sebagai berikut:

  1. Paper merupakan tulisan sendiri dan tidak merupakan hasil plagiat serta memiliki kebaruan serta belum pernah dipublikasikan sebelumnya.
  2. Ditulis dalam Bahasa Indonesia, format RTF atau Ms. Word. Font Times New Roman, 12 pts, double spasi, margin 2.5 cm dengan halaman di sisi kanan bawah.
  3. Panjang tulisan 5.000 sd 8.000 kata
  4. Full paper dikirimkan ke alamat email comicosuajy@gmail.com
  5. Batas akhir pengiriman full paper tanggal 20 Juli 2017.
  6. Paper tersebut akan dimuat dalam proceeding COMICOS 2017. Bagi presenter yang mengirimkan paper setelah batas waktu tidak akan dimuat dalam proceeding.
  7. Stuktur fullpaper meliputi
    1. Judul, nama penulis (disertai alamat institusi dan alamat email)
    2. Abstrak (disertai kata kunci 3-5 kata) dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris
    3. Pendahuluan: Berisi latar belakang, konteks penelitian, hasil kajian pustaka, dan tujuan penelitian
    4. Metodologi: Berisi paparan mengenai rancangan penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, dan analisis data
    5. Bagian inti/ pembahasan: Berisi paparan hasil analisi penelitian yang terdiri dari sub judul-sub judul (sesuai kebutuhan)
    6. Penutup: Berisi simpulan temuan penelitian, penegasan sikap penulis, dan saran-saran
    7. Daftar rujukan: Memuat sumber-sumber yang dirujuk di dalam artikel yang ditulis menggunakan format penulisan menggunakan APA style

 Catatan:

Akan dipilih dua (2) paper terbaik yang mendapatkan kesempatan untuk dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Komunikasi (terakreditasi) periode tahun 2018.